Friday, July 06, 2007

Lalat yang frustasi (part 2)

Lalat yang Frustasi (Part. 2)

Semua tahu tentang kisah Jack & Rose dalam kisah epik Titanic. Siapa yang tidak tahu bagian itu. Terlebih bagian dimana Jack berkorban demi Rose. Inilah kisah lalat yang frustasi dengan kasihnya.

Hari ini (lagi) aku melihat lalat – lalat yang frustasi. Entah sudah berapa banyak yang menjadi frustasi, baik manusia maupun mahluk hidup lainnya. Termasuk lalat. Kisah ini dimulai dari sekumpulan lalat yang beterbangan mengeliligi ember kecil di toilet rumahku. Entah apa yang sedang mereka lakukan. I’m totally blank. I have no idea on it.

Sambilku melakukan serangkaian ritual di pagi hari, yaitu mandi, gosok gigi, dan bahkan “Poopie”. Yah tepatnya aku sedang memperhatikan mereka di saat sesi poopie-ku. ;-) .

Lalu dunia imajinerku pun menarikku untuk berkhayal meski disaat waktu poopieku.

Muncul beberapa scene adegan dalam benakku,

Yang pertama adalah, kemungkinan lalat – lalat ini melakukan siaga 1 dekat ember kecil ini dikarenakan Aroma therapy yang begitu menggoda sensasinya hasil produksiku tiap pagi. :D (hehe… : hasil poopie-ku) sehingga mereka rela untuk “FLY” dan berputar – putar.

Atau mungkin yang kedua karena mereka lebih suka di derah yang lembab dan basah seperti normalnya mahluk sekawanan lalat biasa tinggal.

Atau mungkin yang ketiga…

Inilah topik utama berita kita hari ini. Yah semoga kalian akan menyukainya.

Kemungkinan ketiga adalah Mereka sedang merasakan kebahagiaan dan cinta, layaknya seperti film Bollywood di tv. Mereka yang sedang kasmaran akan dengan riang gembiranya menari sambil bernyanyi dan tidak lepas juga dengan satu ciri khas bollywood. Apa itu? Janganlah anda lupa, bahwa menari , bernyanyi sambil mengelilingi pohon ataupun mengitari tiang merupakan ciri identik dunia bollywood. Tetapi siapakah yang tengah berbahagia?

Adalah Jaka dan Rosa yang tengah menjalin kasih di kerajaan lalat. Sehingga menarilah mereka di dekat ember dalam toilet rumahku, didukung pula oleh keadaan yang tengah terjadi saat itu.

Well.. tunggu dulu, ini baru sekedar pengantar dalam cerita ini.

Siapapun yang melihat atraksi mereka akan terhibur dan dapat turut merasakan ke – Frustasi – an mereka. Tunggu dulu… aku tidak tahu kata yang tepat untuk mereka, ke – frustasi – an ataukah ke – bahagia – an? Yah aku harap kata itulah yang cocok untuk mereka.

Baik, kembali ke kisah Jaka dan Rosa….

Jaka dan Rosa begitu serasi, secara proporsi badan keduanya sama. Sehingga dapat dikatakan cocok. Jack dengan ukuran kepalanya yang lebih besar dibanding ukuran badannya terlebih sayapnya yang mungkin menurut ku agak membuatnya sedikit sulit dalam mengangkat tubuhnya. (asumsi berat di kepala.). sedang Rosa dengan kedua bola matanya yang bulat serta merah terang, membuatnya terlihat sedikit charming. Ini pula yang membuatnya melihat objek seperti layaknya kita sedang meneropong dengan kaleidoskopi.

Mereka terbang begitu lincahnya nan indah. Setiap gerakan yang mereka buat seringkali membuatku berdecak Tanya dengan kerut di dahiku yang sedikit risih, ini bukan karena aku tidak suka dengan seni terbang mereka, tetapi lebih kearah , aku risih jika mereka semakin lama semakin terbang menari di dekat ku ketika sedang poopie.

Sampai pada akhirnya ketika aku hendak mengambil air dari ember tersebut, keduanya tercebur akibat gerakan gayungku yang begitu cepat. Terjebaklah mereka di luasnya samudera air (ember) itu. Mereka tetap bersama dalam satu irama yang senada merekapun tetap menari. Oopss.. kurasa tidak menari seperti di udara, tetapi kini lebih ke menari dalam penyelamatan diri, alias berenang. Yah, mereka coba berenang. WOW... baru kali ini aku melihat lalat – lalat yang multi talenta. Maaf, ralat. Bukan multi talenta, tetapi Frustation Effect !. k’lo kita pernah nonton atau menedengar film berjudul Butterfly Effect, kali ini yang ada Frustation effect. Satu point bagus yang dapat dicerna sangat mudah yaitu frustasi dapat menyebabkan efek samping yakni hal yang positif dalam cerita ini. Efek samping dari lalat – lalat yang frustasi ini adalah mereka tetap coba menari dengan menggerakkan kaki – kaki mungil mereka, dan mungkin boleh saya tambahkan. Inilah yang mereka ucapkan.

J : Ros, are you okay Floney ? (Floney -> ucapan Honey versi bahasa lalat.)

R : Yes, baby. I’m okay as long as we stick together.

J : !”$*&()+”

J : Okay, gerakin kakimu, coba sedikit goyangkan sayapmu, agar kita dapat berenang ketepi. Disana, kamu lihat itu? Kit akaan kesana sekarang.

R : yes dear. Oke dech..

J : cepat.. ikuti aku..

R : yes my hero.

J : Ki… Ki… Ki.. ka.. ki… (kiri.. kiri.. kiri.. kanan.. kiri…)

Irama ritme gerak jalan nasional.

R: Ki.. ki.. ki.. ka.. ki…

Merekapun sambil bertatapan dan menghadapi situasi ini bersama.

Dan merekapun sampai di tepi gayung yang tengah terapung di dalam ember merah itu. Mereka berhasil memanjat.

Pada waktu yang sama, aku pun telah selesai dengan prosesi poopie-ku. Dan tiba waktunya ritual pen – cebok – an. Kuambil gayung biru dari ember merah itu.

Nasib berkata lain pada kisah lalat – lalat yang frustasi ini. Rosa terangkat dalam gayungku. Sedang jaka terpisah darinya. Entah bagaimana mereka terpisah begitu saja. Dan rosa pun mati begitu saja bersama sisa – sisa poopie-ku yang jatuh ke dalam lobang closet itu. Rosa pun terbenam, terkubur dengan sisa – sisa yang p[ernah menjadi bagian dalam kehidupan itu. Semoga arwah rosa dapat berpulang dengan tenang. AMIN.

Sementara jaka terjatuh dalam samudera air (ember itu). Ia pun berharap dapat menyusul Rosa tenggelam dalam lubang kloset itu. Sayang nasib jaka tidak se – sial Rosa. Jaka berharap dirinya terambil dalam gayungku yang selanjutnya. Agar dapat terbuang seperti halnya Rosa terbuang. Aku pun telah selesai dengan poopie – ku. Waktunya untuk shower dan yang lainnya. Lalu kutinggalkan ember dan gayung itu. Lalu jaka pun mencoba berkali – kali aksi bunuh dirinya. Sampai akhirnya ia pun berhasil mati dengan cara terhormat (at least lebih terhormat dibanding Rosa). Jaka mencoba berulang kali menenggelamkan kepalanya sampai akhirnya ia tenggelam dan perlahan demi perlahan ia melepaskan arwahnya secara bertahap. Yang aku sendiri tidak tahu prosesnya.

Dari sini aku berpikir, aku rasa sudah sepatutnya aku memberikan penghormatan pada Jaka. Dan tidak berlebihan rasanya jika aku harus menguburkannya dan menulis kisah hidupnya yang entah sudah berapa lama ia hidup alias umurnya.

Sebuah catatan kecil yang menurut saya tidak kalah penting untuk direnungkan. Sebuah point yang menurut sebagian orang pointless, tetapi memberi esensi yang dapat turut me – refleksi diri kita.

Jika Jaka dapat memilih untuk setia, jaka dapat berani untuk berkorban, dan sebuah kisah unik dalam percintaan yang dewasa ini semakin kabur dalam pen – definisi – annya.

Jika Jaka dan Rosa sebagai lalat dimana hewan tingkat rendah dibanding kita yang sebagai manusia, kenapa kita tidak dapat berlaku setia kepada pasangan kita, kenapa kita tidak berani berkorban untuk sesuatu yang jelas kita tidak sukai. Dan kenapa juga kita sebagai manusia lebih cetek keberaniannya dibanding lalat.

Banyak hal yang dapat kita renungkan dalam cerita ini. It doesn’t matter about the Flies, or the writer, not matter about the story, but its all depends how you see this picture and grab the essence of the story.

No comments: