Tuesday, October 26, 2010

Untuk diam...

Ketika langit tak ber-mentari
Saat hati tak lagi mencari
Masih inginkah aku berlari?
Saat dia tak lagi mencari.

Oh angin, bisikkan kepadaku
Adakah sang waktu sedang menunggu?
Kala mentari bersembunyi
Di ujung penantian, aku menepi...

Aah.. Aku haus..
Dahagaku akan pengharapan
Atau mungkin, memang aku harus..
Berhenti berharap dalam pusara ketidakpastian

Biarkan aku memilih, disini...
Melihat sandiwara hidup yang terjadi
Biarkan aku memilih, menepi...
Menikmati setiap detik yang terjadi
Mengecap setiap tegukan air yang kuminum
Yang tak mungkin kunikmati
Saat aku sedang berlari.

Untuk diam...
Tanpa harus terus berlari..
Untuk dapat menikmati..
Anugerah cinta sang ilahi.

Saat rasa tak lagi terasa...

Saat rasa tak lagi terasa
Ketika mata tak lagi melihat
Saat rasa tak lagi terasa
Ketika dirimu tak lagi dekat

Ketika asa tak lagi terasa
Apakah diri ini sudah terbiasa?
Ketika cinta tak lagi melihat
Adalah dirinya yang tak terpikat

Lemparkanlah aku ke dalam pusara waktu
Yang tak terukur nilainya
Yang takkan mungkin terhapus
Yang hanya mungkin membuatku membatu

Saat rasa ini tak lagi terasa
Saat hati ini tak lagi dilihat
Saat diri ini sedang menangis,
bukan tangis kesedihan,
melainkan tangis keikhlasan

Saat dirimu tak lagi merasa..

Saturday, April 17, 2010

mimpi dan insomnia tidaklah berkawan


Tuesday, April 13rd ' 2010

Kamar kost di Tasikmalaya.
Pukul 00:48 WIB
Insomnia itu kembali mendatangiku...
aku lelah dan ingin tidur.
Penat dalam satu hari ini sudah cukup menurutku
aku berteriak kepadanya

desir angin kian melambat dan mendadak menjadi sunyi
hanya suara bunyi tokek dari atas genting mengisi
suasana hening membius angin berhembus
dan apa yang kucari di malam ini?

Bunyi air keran yang kian menetes tanpa henti
menemani setiap derap tuts ketikan dari keyboard ini
aku menitih dan merintih dalam hati
apakah aku sedang mencari mimpi ??

kupanggil insomnia dan bertanya
apakah engkau kenal dengan mimpi?
Percayakah kau dengan mimpi??
insomnia hanya tersenyum
dan pergi

kini kupanggil mimpi dan bertanya
apakah kau berkawan dengan insomnia?
Kami adalah bagian dalam dirimu
jawabnya dan lalu pergi

satu integritas semu tanpa makna
tanpa akhir dalam suatu bentuk
untuk berhenti bertanya
dalam sifat yang majemuk

karena mimpi dan insomnia tidaklah berkawan.
By: August Lee Setiawan

Malam-Pagi-Mimpi


Sunday, April 11th '2010

Malam...
Tolong antar aku ke gerbang mimpi
dalam hangatnya tidurku..

Pagi...
Bangunkan aku saat mentari
menyinari alam dengan semangatya...

Mimpi...
Biarkan energimu menjadi transedensi waktu
dari malam ke pagi..
Dan inspirasikan ragaku
dengan energi dan sisa – sisa mimpi itu...
By: August Lee Setiawan