Thursday, October 12, 2006

Keterapunganku

Aku sedang terapung!! aku tidak tahu akan seperti apa akhirnya nanti. aku hanya diam lemas dalam keterapunganku. mungkin aku akan tenggelam, atau mungkin aku akan berhasil mengambang dan mengalir dalam aliran ini! tapi aku tidak tahu!! Diam. Aku terapung dalam waktu. Tenggelamkan kepalaku Dan menutup mata. Tanda ke-tidak-ingin-tahuan-ku.

Friday, October 06, 2006

“G” dan singa si “Leo”, adalah satu

Pengembaraanku yang tak berujung

Membuatku jenuh dan lelah

Sampaiku pada liku hidup yang tak tercelah

Yaitu cinta diujung

Tanyaku dalam hati

Naifku menyadarkanku

Mulutku tak sama dengan hatiku

Aku serasa mati

Singa itu Si “Leo”

Dan aku adalah “G”

Kami adalah Satu

Satu adalah kami

“G” terkapar lunglai

hanyutnya dalam air membawa perjuangan yang dahsyat

Leo tidak lunglai

Dan ialah yang akan membuat “G” menjadi kuat

Karena mereka adalah cinta

Karena cinta mereka ada

“G” dan Singa si “Leo”

Panggil saja dia “G”, memang ini bukan sebuah nama. Tapi ini cukup untuk me-representasi-kan semua. “Apalah arti sebuah nama”,kata Shakes Peare. Berangkat dari situ aku mengusung “G” dalam tulisan ini.

“G” ; Seorang yang dapat dikatakan “Unpredictable”. Itu menurutku dan sahabatnya. Dia seorang yang Open – Minded, baik, jujur. Namun layaknya hidup di dunia nyata terkadang iapun tidak menjalani hidupnya dengan baik. “Itu semua relative”,katanya.

Dan inilah kisah “G” dan Singa si “Leo”.

“G” sedang dalam pengembaraannya menikmati dunia. Dia berjalan, mendaki, berenang dan sesekali melompat. Kadang ia pun harus bergelayutan dan kadang ia juga membiarkan dirinya jatuh ke dalam air yang akan membasahi dirinya serta membiarkan dirinya terhanyut oleh aliran air. Ia membiarkan air membawa dirinya mengalir begitu saja tanpa arah yang jelas. Sampai nanti ia akan terhenti. Dan dari tempat ia terhenti ; ia akan melanjutkan pengembaraan hidupnya.

Sampai suatu ketika ia tiba di suatu hutan yang entah dimana keberadaannya. Ia bertemu dengan “Sang penguasa hutan”; Begitulah Label yang disandang oleh Sang singa. Lalu merekapun berkenalan.

Mereka saling mengenal satu sama lain dikarenakan mereka ada persamaan. Mereka sama – sama sendirian. Sepanjang pengembaraan hidup mereka, penuh sekali dengan warna.

Satu waktu G berkenalan dengan orang asing. Mereka mulai berteman. Mereka telah membicarakan banyak hal. Sampai akhirnya orang asing ini mengajak G untuk berpacaran. Sebut saja orang asing ini Z. Namun hubungan pacaran seperti apa yang akan mereka jalankan? Disinilah masalahnya. Mereka mencoba untuk memiliki hubungan open-relationship!

Memang tidak ada yang salah dengan itu. Tetapi yang jadi pertanyaan, apakah hubungan seperti ini akan bertahan? Tanyaku dan Leo.

G dan Z pun menjalaninya. Mereka bercinta seolah mereka pasangan sejati yang tak kan terpisahkan. Mereka saling memuja. Dan mengagumi satu sama lain. Sampai pada saat mereka masuk ke dalam cerita kehidupan mereka masing – masing.

Open – relationship adalah salah satu bentuk dari banyaknya jenis relasi. Kita tahu, ada yang namanya closed – relationship; inilah yang umumnya orang jalani. Hubungan satu – satu. Sedangkan open – relationship adalah kebalikannya dari closed – relationship. Hubungan one to many. Yah, bisa dikatakan seperti itu kurang lebih.

Mereka sepakat secara hubungan yang mereka miliki sekarang ini adalah open-relationship, untuk tidaksaling membatasi ruang gerak masing – masing. Masing – masing dari mereka boleh mempunyai pacar lagi.

“What?!” ucapku dengan mengernyitkan keningku.

Hubungan G dan Z pun berjalan harmonis. Tapi apakah ini jujur? Apakah ini nyata?

G yang aku kenal sangat prinsipil, keras, mungkinkah sesuatu yang disebut – sebut cinta itu telah membuatnya berubah? Itu yang aku lihat adanya.

Aneh bin ajaib memang. Leo pun mencoba mendekati dan bertanya pada G. “Are you sure with ur relationship u had now?”,Tanya leo dengan nada datar.

“yeah, I’m sure. I’m okay. I just fine. Thanxs my dear friend”,dijawabnya dengan tenang pula.

“you are not okay deep inside ur heart! What you said is not what you think dear”

“Dalam hatimu semua bertubrukan dan pecah tak tergambarkan”, leo.

“Leo, I have to go now. Bye. Thanxs and see you around dude.”,Ucap G sambil lalu.

Lalu G pergi.

Di bukit belakang gunung dimana semua indah, sejuk,asri nan damai. Disitulah G berada.

Seiring jalannya waktu, G pun berpikir. Apakah ini yang ia mau? Ataukah ini hanya sekedar sesuatu yang ia belum ketahui artinya?.

Dan ia tidak tahu jawabnya.

Ia pun mulai berpikir seperti biasanya seorang G. Dengan dahi yang mengkerut dan sesekali sambil memainkan bibirnya.

Dan dilemma itu masih saja menghantui pikirannya, otaknya benar – benar lumpuh kali ini.

Hubungannya pun dengan Z sekarang – sekarang ini sedang memasuki babak baru. Dalam artian sedang diuji dengan masalah – masalah kehidupan yang complicated.

G sepertinya sadar atas apa yang ia mau dan ia cari, tetapi ia memilih diam untuk menentukan aksi selanjutnya dalam hidup.

Sulit sekali untuk G mengatakan ke Z, “Sorry our relationship its over. Bye!”.

Ia disudutkan antara moral, prinsip, mimpi dan cinta. Selama ini G terlalu meng-indah-kan hubungan antara dia dengan Z.

G terlalu mencintai Z.

Hanya saja yang jadi pertanyaan sekarang ini adalah, Apakah ini pantas dan perlu dijalani?

Moral dan logikanya mengambil alih dan mempunyai pertimbangan tersendiri tentang ini. Dimana moral dan logikanya berkata pada dirinya melalui saraf sensor neuro yang ia punya. Dan terdengar kurang lebih seperti ini, “Gila aje, loe murahan banget sech! Pacaran sech pacaran, tapi kalo kaya gini caranya apa bedanya kaya loe jade pelacur simpenan dia. Secara kalian Open-relationship dan itu gak menutup kemungkinan ia punya banyak pacar di banyak Negara kan? Coba dech loe pikirin lagi. Datang kesini trus bercinta abis itu dia pergi lagi dengan dalih pulang lah, padahal belum tentu juga kan. ”

Tidak hanya sampai disini.

Prinsipnya pun mulai menyinggung dirinya tentang apa yang ia pegang kukuh dari dulu. G pernah berprinsip kalau ia akan memegang kukuh prinsip monogamous a.k.a. monogami getho loch. Dan sekarang kenyataan lain adanya.

Mimpinya pun akan cinta dan kehidupan mulai membuka mata hatinya. G punya mimpi tentang kesuksesan yang ia inginkan. Dan tentang cinta, ia masih percaya dan sedang mencari atas apa itu yang kita sering sebut sebagai cinta sejati. Alias true love. Masih adakah cinta sejati itu?

Dan ini bukanlah akhir dari cerita tentang G, Z, leo, atupun aku si pencerita.

G merenung dan terdiam lama. Bisu. Diam tak berbahasa. Hanyalah hembusan keluar masuk nafasnya yang terdengar.

G telah ambil sikap dan memutuskan sikapnya. Dia akan mempertahankan hubungannya dengan Z, hanya saja G tidak akan membiarkan dirinya tenggelam dalam mimpi manis yang lahir dari hubungan itu. Tetapi tetap memegang mimpi itu sebagai salah satu landasan untuk kuat menjalaninya. Ia akan mempertahankan hubungannya dengan Z dengan rasa tulus dan cintanya. Karena dalam cinta butuh pengorbanan. Dimana mimpi tentang mereka akan menikmati hidup hanya berdua dan terus bertumbuh bersama sampai masa tua mereka. Dan hanya mereka berdua saling mengisi. Tanpa orang lain. Dengan kata lain mereka mensubstitusikan hubungan mereka menjadi closed-relationship.

Tentang moral dan segala macamnya, G tidak mau ambil pusing. Dia hanya membiarkannya jatuh ke dalam air dan membiarkan dirinya terbawa oleh arus ( lagi – lagi).

AKu dan Leo hanya bisa diam dan mengawasinya. Karena kami adalah satu.

Dan inilah hidup yang indah nan rumit layaknya permainan labirin. Kadang kita terlalu naïf akan sesuatu hal yang kita pikir kita tahu sangat jelas dan mengerti. Kenyataannya kita salah. Kita salah atas ketertahuan kita sendiri.

Adakah cinta itu peta dari labirin hidup?
Ataukah memang mereka suatu paket yang misterius dengan jawaban yang relatif?

Yang kutahu sekarang. Aku , Leo dan G hanya menjalani hidup sebagaimana adanya. Terus berjalan tanpa tahu akhir dari kisah perjalanan ini. Dan selebihnya kami hanya menyerahkan diri kami pada sesuatu yang suci yang disebut – sebut sebagai tuhan.