Tuesday, August 29, 2006

Cerita ini teruntuk Sahabatku…

(Aku sebagai Wanita dan dia Lelaki)

Sore itu indah sekali. Romansa keindahan terhempas indah di udara saat itu. Panggil saja aku “M”; aku kerja di lingkungan orang2 kota yang bisa dikatakan penganut Freesex lifestyle. Latar belakangku dapat dikatakan berasal dari keluarga baik – baik. Aku rasa begitu..

Sore itu, seperti biasa, Pacarku telah menjemputku sewaktu jam pulang kerja. Secara tempat kerja kami berdekatan sehingga tidak masalah baginya untuk menjemputku. Dan seperti biasa,aku dan dia tidak langsung pulang. Kami telah berpacaran selama satu tahun lebih. Dan selama itu, setiap pulang kerja kami selalu mampir ke tempat makan yang biasa kami kunjungi.

Sehabis kami makan, aku mampir ke kost dia. Kami berbincang – bincang mengenai hari itu.

Tak kusadari waktupun berlalu begitu cepat. Waktu pada saat itu menunjukkan pukul 21.00 ; Begitu aku ingin beranjak pulang. Tiba – tiba hujan turun dengan derasnya tanpa ada tanda – tanda akan turun hujan kala itu.

Akupun tidak mungkin pulang karena tidak mungkin kami hujan – hujanan naik motor. Lalu kami pun terdiam. Angin dingin masuk melalui celah bawah pintu. Untuk menghangatkan kedinginan saat itu, akupun membuat 2 cangkir teh hangat dengan aroma cammomile yang lembut.

Kami berpelukan saat itu dan saling mengisi. Dan ketika itu juga, ia menginginkan aku. Tubuhku.!

Haruskah aku lakukan ini demi cintaku? Atau nafsuku?

Mulutku langsung menolaknya! Entah setan apa yang sedang berbisik di sampingnya, tiba – tiba ia berkata seolah – olah aku penyebabnya. Ia memojokkan-ku. Cinta dan pengorbanan kini ia pertanyakan.

Jujur saja, nafsuku pun bergejolak dalam panasnya birahi ini. Tapi ada yang ku pertahankan yakni nilai yang sangat – sangat berharga bagi wanita, Virginitas! Yah,.. kata lain dari keperawanan.

Tapi hatiku tidak tahan. Aku ingin menerima ajakannya. Aku mencintainya. Aku pikir dialah mr.right-ku. Dan dia pun mulai menggodaku dengan sex appeal yang ia punya. Aku sangat tergoda kala itu. Rayuan – rayuan mautnya pun keluar dari bibirnya yang manis. Ia berhasil menyentuhku tepat di area sensitif-ku. Area paling sensitif yang dimiliki perempuan. Hatiku. Ia berhasil menyentuh hatiku dan akupun terbuai kala itu. Aku merasa seperti wanita dewasa. Wanita dewasa yang butuh disentuh. Sentuhan – sentuhan cinta, perhatian, dan belaian hangat penuh kasih dari lelaki dalam hidupnya.

Bulat sudah keputusanku! Aku menerima ajakannya bercinta!

Dan kami pun bercinta!

Sesudah kami bercinta, kami berpelukan erat dan sangat intim. Lalu kamipun tertidur.

What a wonderful night.
Hanya itu yang dapat kukatakan.

Tetapi justru setelah itu; Adalah awal keterpurukkan ku.

Beberapa saat setelah malam itu, dia berubah. Dia telah berubah. Ia berubah menjadi tidak perhatian lagi!. Tidak pengertian.
Entah ini waktu saja yang kebetulan, atau ini memang kesengajaan. Ia menjadi sibuk dengan kerjaannya. Sampai – sampai tidak ada waktu untuk berbasa – basi lagi denganku. Rayuan yang kutunggu-tunggupun tak kunjung keluar dari mulutnya. Yang ada hanyalah ia datang ketika ia sedang ingin bercinta. Lalu pergi setelah itu.

Akupun begitu naïf akan cintaku saat itu. Begitu buta dan tulinya aku. Aku tidak mempedulikan issue berita yang disampaikan oleh teman – teman sekantorku tentang kelakuannya diluar.
Sebelumnya teman kantorku(lelaki) pernah melihatnya dengan pelacur di diskotek yang boleh dibilang sangat difavoritkan oleh ABG-ABG pemuja pesta, tetapi aku tidak mempercayainya. Aku tidak ingin mengorbankan hubunganku hanya untuk issue yang belum tentu kebenarannya.

Sampai…, saat aku melihatnya dengan mata kepalaku sendiri. Dan memergoki di kamar kost-nya. Kini aku mempercayai issue itu.

Sakit..

Sesak…

Sangat sesak sekali dada ini. Hampir – hampir aku mati sesak. Perlahan air mataku mulai turun dan membasahi pipiku. Disusul dengan hidungku yang mulai berair. Apakah aku menangis? Yah!.. aku menangis! Dan aku pun menangis dengan terisak – isak.

Aku telah keliru. Keliruku akan hal sebelumnya yang kuceritakan diatas tadi. Tadinya kupikir dialah ‘Mr.right’-ku tapi nyatanya bukan. Harusku akui, aku memang mencintainya.

Setelah hari itu dia tidak pernah lagi menghubungiku. Tidak sama sekali! Aku merasa perih dan hancur! Aku merasa sangat diabaikan dan dicampakkan!
Sampai akupun tak tahan lagi untuk mengetahui semua dan dengan penjelasan – penjelasannya yang nantinya aku harapkan penjelasan itu membuat kami kembali.

Aku menghubungi dia. Meminta penjelasan akan semua hal yang telah terjadi saat itu. Lalu kami pun bertengkar hebat. Dia menyalahkanku atas semua yang ia perbuat. Dengan dalih sex ia mencoba menyudutkanku kali ini. Akupun geram dan tak tahan. Akupun menamparnya. Kemudian ia memutuskanku. Saat itu juga cerita kami telah berakhir. Finish.

Hati ini sangat hancur. Aku merasa seperti dipermainkan. Aku yang dulu mencintainya kini menjadi sangat membencinya. Ego-ku tidak terima ini semua. Baru kali ini aku diputusin. Sebelum – belumnya, akulah yang mutusin mantan – mantanku. Satu penghinaan besar bagi ego-ku.

Marah , benci, kesal, sedih, tangis, sesal, itu yang kurasakan. Semua bercampur menjadi satu.

Marah, benci, dan kesal! Kutujukan kepada lelaki brengsek itu. Yang dulu pernah kucintai.

Sedih , tangis, dan sesal. Penyesalan memang selalu datang belakangan. Inilah yang sedang kupikirkan. Aku menyesali telah melakukan persetubuhan terlarang itu yang tidak direstui tuhan.
Sampai pada perenunganku. Inilah aku. Seorang wanita yang telah menjadi dewasa. Kini aku lebih tegar. Perlu diketahui! Untuk menjadi dewasa bukan berarti harus mengorbankan kesucian. Menjadi dewasa adalah mengenai perasaan, pemikiran, dan penyelarasan rasa dalam hidupmu sebagai seorang wanita. Semua akan matang dengan seiringnya waktu.

Wanita adalah wanita. Jadilah cantik. Jadilah dirimu sendiri! Be proud of yourself.

Aku menyesali telah melakukan hubungan terlarang itu yang tidak direstui tuhanku.



Pesanku kepada sahabatku perempuanku…
Sebisa mungkin hindari sex diluar nikah.
Tetapi apabila hal itu tak memungkinkan, just be safe untuk kebaikan dan masa depan-mu.
Sebelum dan sesudahnya itu semua adalah keputusanmu. Semua tanggung jawabmu.
Karena yang kuperjuangkan sekarang ini bukan hanya emansipasi hak wanita yang terlihat secara kasat mata. Tetapi aku akan menerobos dan menghancurkan nilai – nilai yang ada, Yang selalu menjadikan ‘Virginitas’ sebagai tolak ukur terhadap kaum-ku. Saatnya kini mematahkan dogma itu semua.

Hidupmu indah wanita. Jalani semua yang kau suka. Karena hidupmu sepenuhnya milikmu. Beserta baik buruknya.