Sunday, July 16, 2006

Lalat yang Frustasi

Kududuk di sebuah kursi di suatu taman, sehabisku olahraga sore itu. Istirahatku dengan duduk santai sambil menghirup udara segar di taman itu. Menikmati hangatnya sinaran lembut sore, transendental waktu siang ke malam. Langit sore itu begitu jingga, terang, dan menghangatkan. Kujuga melihat burung – burung sedang terbang kembali pulang ke sarangnya. Kulepas senyum menyambut datangnya sang bulan dan melepas sang mentari sore itu.

Sampai ketika aku duduk, dan disebelahku ada seekor Lalat yang sedang sibuk terbang tak jelas arahnya. Aksi manuver yang dilakukannya membuat aku sedikit bertanya – tanya padanya. “sedang apa kau,lat?”,tanyaku. “(&$@!$^%$*!#”,jawabnya.

Lalu ku diam. Membiarkannya waktu untuk berpikir.

Selang 5 menit kemudian, dia sudah memutuskan apa yang harus dia lakukan. Aku hanya diam. Tetapi dia telah meng-enkapsulasi-kan maksudnya di atas ketidaksadaranku .

Kemudian Ia terbang perlahan dari bawah menuju atas dengan aksi manuvernya yang kali ini ditambah pula dengan serangkaian aksi turbulensi dengan berbagai macam jenisnya. Sekitar 3 menit ia melakukannya, ia melakukannya sekali lagi; Dan kali ini dari atas ke bawah. Dengan cepat ia melakukannya.

Dan…. )*%@$(_ seketika ia mati! Ia baru saja melakukan aksi bunuh diri yang mungkin menurutnya lebih baik dan lebih terhormat. Ia mati kala itu dengan menjatuhkan dirinya ke dalam gelas cendol sisa minum entah siapa yang terletak tidak jauh dari TKP dan tempat duduk yang kududuki sekarang.

Aku hanya diam (lagi - lagi), sampaiku pada perenungan dan prosesi pentransferan roh pun dimulai. Lewat alam ia berkomunikasi denganku. Masalah yang ia hadapi bukanlah sekedar lahir,metamorfosis, makan, dan mati. Melainkan rasa cemburu, rasa cinta yang terlahir di alam ini. Ia ingin keberadaannya dianggap berguna. Ia ingin dianggap exist. Dan tidak melulu oleh dia manusia sakit. Tidak melulu setiap ada dia ,disitu ada penyakit. Ia sebal akan hidupnya yang selalu dipukuli, dijauhi, dan tidak dianggap.

Hidup baginya tidak lebih dari permainan untuk mati. Ia berpikir bahwa hidupnya hanyalah untuk mati. Karena kenyataan begitu adanya. Dunia kejam adanya. Suka atau tidak,disitu akan menentukan perjuangan.

Itulah kisah hidup sang lalat yang frustasi. Ukuran kepalanya yang kurang lebih hampir sama dengan ukuran tubuhnya ini membuatnya abnormal dalam berpikir. Itulah yang terjadi. Ia memiliki masalah keberatan di kepala. Miris memang hidupnya. Tapi itulah lalat. (Lagi – lagi ) Ia hidup untuk mati. Karena ia hanya mempunyai kebebasan hidup di dunia tidak lebih dari 48 jam.

Inilah Balada si Lalat yang frustasi.

Perempuanku... Sahabatku...

Untukmu : perempuanku, sahabatku…

Jangan kau sesali atas apa yang telah kau lakukan

Jangan kau tangisi atas apa yang telah terjadi

Penyesalanmu tidak akan mengubah semua yang telah terjadi.

Dan karena itu, kamu harus teruskan perjalanan.

Biarkan cinta itu pergi darimu.

Aku tahu itu meninggalkan luka yang amat sangat di dirimu.

Jangan kau larut dalam laramu.

You know what?!

You are so beautiful

Dia yang pernah melukaimu bukanlah orang yang pantas.

Aku selaku sahabatmu…

Turut hancur..

Turut sedih..

Sahabatku…

Bangunlah dari laramu..

Tiba sudah waktumu untuk membangunkan dunia.

Karena sudah tidak ada lagi waktu untuk membahas tentang kecacatan wanita

Karena tidak melulu Virginitas dijadikan standard penilaian atasmu

Perempuanku.. sahabatku..